Kosong [2015] : John Green x Stephen King Indonesia

6:54 PM

"Wah buku horror Indonesia nih", kataku waktu pertama melihat covernya yang terlihat seram. Sepintas seperti cerita bangku kosong, tapi percayalah, tidak sepintas pun terdapat tulisan yang serupa dengan film horror Indonesia tersebut. Buku horror tanah air berkualitas terbilang jarang ditemui di toko buku, mungkin hanya buku-buku Risa Saraswati yang bisa dibilang salah satunya untuk saat ini. Pun Bentang Pustaka yang dikenal menerbitkan buku segala genre, mulai dari Supernova-nya Dee Lestari hingga buku-buku SNMPTN, akhirnya punya seri sendiri untuk genre buku horror : Dark Lit.

Diambil dari film Hantu Nancy

Kembali ke buku ini yang terbilang menyajikan tema yang umum untuk dicerna : Kisah horror dengan latar belakang pelajar SMA. Dengan tema se-"aman" ini, buku ini sukses menyihir pembacanya untuk terkaget, ternyata buku ini tidak semengerikan covernya. Pembaca merasa "tertipu" dengan covernya, sehingga terus asyik membaca hingga halaman terakhirnya.

Alkisah terdapat dua pelajar kelas 2 SMA yang memiliki hidup yang bermasalah, Aira dan Bram. Keduanya sangat tak acuh dengan kehidupan sosialnya karena masing-masing memiliki latar belakang keluarga yang sedang sial. Aira hanya memiliki Bram dan begitu pula sebaliknya. Karena ada sebuah kejadian, segalanya berubah dan menghancurkan hidup keduanya. Kejadian ini melibatkan Rama, anak kelas 3 yang lumayan populer dan seorang arwah penasaran bernama Abigail. Mereka harus menyelesaikan apa yang telah diperbuat Aira supaya kehidupan kembali normal seperti sedia kala, tapi apa lah arti normal jika dari awal kehidupan Aira dan Bram memang tidak normal?

Poster Bangku Kosong

Ade Igama menuturkan kisah ini dengan brilian, tema yang "secetek" ini dan pengalaman-pengalaman horror yang tentu sudah familiar seperti penampakan hantu, astral projection, hingga arwah wanita muda yang mati diperkosa, semuanya dipilah-pilah dengan sabar sambil menunggu punchline-nya. Keterampilan Ade dalam memilah-milah kisahnya dengan alur maju-mundur pun patut diacungi jempol karena Ia dengan sabar dan perlahan memberikan kejutannya di saat pembaca mulai bosan lalu menebak-nebak jalannya kisah ini. Bak pecinta pedas yang sudah hampir berhenti makan karena kepedasan, tapi tetap lanjut makan karena di situ lah sensasi aneh yang tidak dapat dijelaskan mulai bekerja. Ketagihan.

Mungkin satu-satunya kelemahan Ade adalah kebingungan untuk menyelesaikan ceritanya. Hal ini terlihat dalam bagian ke-16, diceritakan bagaimana kisah yang sudah dibangun dari 15 bab seharusnya diakhiri dengan punchline yang nendang, bukannya dengan akhir yang terkesan biasa saja. Tapi tunggu dulu, rupanya Ade tidak bermaksud memberikan punchline yang "nendang" dengan aksi heroik kacangan Bram dan Rama ala film-film horror KK Dheeraj, justru punchline yang sebenarnya berasal dari surat yang dituliskan Abigail pada bagian epilog. Saat membaca bagian epilog, perasaan saya seperti dicampur-campur mulai dari kesal, sedih, ngeri, dan sumringah, yang akhirnya membuat saya senyum-senyum sendiri kaya abis baca sms saldo masuk tiap awal bulan dari Bank Mandiri. Sungguh, Ade Igama sangat lihai memainkan orkes pengejutnya.

Oke, meski buku ini terbilang lihai mengejutkan pembacanya, namun perlu diperhatikan bahwa gaya narasi Ade dalam Kosong terkesan seperti memaksa pembaca untuk mengerti apa yang Ia maksudkan. Menulis novel horror memang jauh lebih sulit, tidak seperti menulis novel genre lain, cerita pendek atau sekedar tweet saja, selain harus mengejutkan, seorang penulis novel horror memang dituntut untuk memberikan atmosfer ngeri bagi pembacanya. Di titik ini, Ade belum memberikan sentuhan terbaiknya seperti yang Ia lakukan di tweet-tweet @kisahhorror. Namun di sinilah sisi menariknya, membaca Kosong seperti membaca novel teenlit John Green disertai bisikan-bisikan halus Stephen King.




Kosong [2015]
Author : Ade Igama
Publisher : Bentang Pustaka
Paperback
C+

***

Listening to : Grease - Summer Nights

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook