Sunya [2016] : Eksperimen Spiritual Harry Dagoe yang Lama Dinanti

4:27 AM


Setelah lama tidak menapaki lantai bioskop, akhir November ini saya beruntung sekali bisa hadir di Jogja Netpac Asian Film Festival 2016. Dari sekian banyak film yang ditayangkan, saya sangat tergoda untuk menonton Sunya karya Harry Dagoe yang sudah lama tidak kita lihat karyanya. Kembali menjelma menjadi sutradara film independen, Harry Dagoe kali ini membawakan sebuah film yang diadaptasi dari cerpen Eka Kurniawan yang berjudul "Jimat Sero".

"Wah horror nih, ogah ah", celetuk teman saya setelah hanya 5 detik pertama nonton trailer Sunya. Nyatanya, mengambil setting di sebuah desa di Magelang, atmosfer film ini terasa sangat creepy  tanpa melibatkan penampakan sosok seram, atau bahkan jumpscare sekalipun. Semua kesan creepy diperoleh dari berbagai campuran elemen musik, sinematografi, ekspresi, dan dialog antar tokoh-tokohnya. Selain keheningannya yang sukses membuat saya merinding, Sunya meninggalkan kesan melankolis yang mendalam. Saya dibuat pusing tak kepalang. Ia tidak hanya menyuguhkan kengerian yang tak sebatas sajian audiovisual, namun lebih dari itu, Sunya seakan menuturkan pengalaman spiritual yang sangat dalam, jauh lebih dalam daripada cerita seorang manusia yang berjumpa sosok-sosok makhluk halus itu sendiri. 


Cerita diawali dengan Bejo yang sedang mengobrol di tengah sawah bersama Rohman, "sahabatnya". Dialog awal film ini sangat menarik, seakan memberi gambaran besar tentang keseluruhan film ini nantinya. Rohman mengeluhkan kondisi nenek Bejo yang sudah teramat renta, namun tak kunjung meninggal juga, disinyalir karena neneknya doyan klenik dan masih memiliki jimat tertentu. Tak lama, proses tarik-ulur film ini dimulai. Cerita bergeser jauh ke masa kecil Bejo. Sejak kecil, ia sering bersentuhan dengan peristiwa-peristiwa gaib. Diceritakan ia pernah bertemu sosok gadis kecil misterius saat berjalan pulang, selain itu ia juga pernah mengusili teman-temannya di sekolah dengan mengubah mereka menjadi peri, hingga tidak sengaja bertemu dengan Raksasa Buto. Pengalaman-pengalaman masa kecil Bejo ternyata berpengaruh terhadap keputusan-keputusannya di masa depan. 

Keseluruhan skenario dituturkan layaknya bermain kartu "minuman". Sunya dipaparkan perlahan-lahan, menyeluruh, namun maju-mundur tak berarah. Ketika semuanya terasa makin rumit, tak usah bingung karena Sunya hampir selalu menjawabnya di saat yang dibutuhkan. Di saat hampir semua kartu sudah dikeluarkan, Sunya menutupnya dengan manis : permainan multi tafsir yang membuatmu kembali berpikir, merangkai kembali semua detail yang hampir dua jam terangkum dalam memori, untuk menyimpulkan ke dalam cerita versimu sendiri.


Meski muncul beberapa kekurangan teknis seperti coloring yang tidak konsisten, gambar yang kerap ngeblur, hingga penampakan alat kelamin yang menurut saya tidak perlu, Sunya berhasil menyatukan elemen-elemen seni tradisional menjadi sebuah entitas seni yang jatidiri nya memang dibuat untuk merepresentasikan realita : ya, seni sebagai penyentil kejadian-kejadian sosial yang ada di sekitar kita, namun kerap diacuhkan. Coba tengok scene munculnya riasan tikus pada wajah tokoh koruptor. Pada penampakan pertama, digambarkan bahwa sang koruptor memang kebetulan sedang berperan sebagai tikus dalam pentas drama teater cucunya di sekolah, sedangkan pada penampakan kedua, sang koruptor terlihat sebagai "makhluk halus" yang sedang berjalan teler dalam hutan dan tak sengaja menemukan durian runtuh -literally. Dua scene berbeda ini mengajak penonton untuk memahami, bahwa keserakahan tidak hanya dimiliki oleh manusia semata. 

Sunya hadir sebagai bentuk pemaknaan yang abstrak terhadap kejadian-kejadian spiritual yang bisa saja terjadi di sekitar kita. Juga menggelitik kepekaan kita terhadap isu-isu lingkungan dan maraknya aksi asosial yang membuat kita less-human, sehingga kerap lupa di mana kita seharusnya berpijak. 



Sunya [2016]
Director : Harry Dagoe
Screenplay by : Harry Dagoe, Eka Kurniawan
Cast : Erlando Saputra, Eko Supriyanto, Satria Qulbun, Astri Kusumawardhani, Sri Purwani, Soetomo Adi, Ronny P,
A
***

Listening to : Toki Asako - My Favorite Things

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook