Rogue One : A Star Wars Story [2016] : Fan Service yang juga Propaganda Anti White Supremacist

4:19 PM


In a Galaxy, far far away...

Dalam tulisan saya sebelumnya, ekspektasi tinggi malah membuat sebuah film yang saya tonton terasa antiklimaks. Namun, hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Rogue One : A Star Wars Story. Berbekal ekspektasi yang tinggi menjulang, Rogue One membayarnya dengan suguhan yang melampaui batas ekspektasi itu. Rogue One, buat saya, jadi penutup 2016 yang tak terlupakan.

Berbagai promotional campaign saya ikuti, mulai dari teaser, celebration reel, trailer, hingga semua featurette saya dalami satu-persatu untuk mengulik alur cerita Rogue One. Ditambah baca ini-itu, dapat disimpulkan plot Rogue One berada (edited) di antara Star Wars III : Revenge of The Sith [2005] dan Star Wars IV : A New Hope [1977]. Lebih tepatnya, menguak awal sejarah terciptanya Death Star, senjata mematikan milik Galactic Empire.

Sebelum dibaca lebih jauh, saya peringatkan terlebih dahulu karena tulisan ini mengandung spoiler, kalau gamau spoiled, langsung aja ke bagian yang bebas spoiler di bawah.


SPOILER DIMULAI

Film dibuka tanpa scrolling text khas franchise Star Wars, langsung dengan menceritakan masa lalu Jyn Erso (Felicity Jones) yang harus kabur karena ayahnya, Galen Erso (Mads Mikkelsen) dipaksa bekerja untuk Empire sebagai pengembang Death Star. Berselang 15 tahun kemudian, diperkenalkan 2 tokoh lain yaitu K2SO, sebuah ex-Imperial Droid yang sudah di-reboot, dan Cassian Andor (Diego Luna), seorang kapten dari korps pemberontak, Rebellion. Mereka membebaskan Jyn yang akan dibawa ke sebuah penjara untuk kerja paksa. Semuanya berjalan begitu cepat, Jyn dibawa ke dewan Rebellion untuk diberi sebuah misi. Misi yang memiliki hubungan erat buatnya, yaitu bertemu Saw Gerrera (Forrest Whittaker), seorang ex-Rebellion yang kini berjuang sendiri secara radikal sekaligus teman lama keluarga Erso, untuk selanjutnya bertemu dengan ayahnya sendiri, Galen Erso.

Di perjalanan ke Jedha, tempat Saw berada, Jyn dan Cassian bertemu dengan dua orang pendeta penjaga kristal Kyber, Chirrut Imwe (Donnie Yen) si pendekar buta dan Baze Malbus (Jiang Wen), sahabatnya. Kyber crystal sendiri adalah bahan dasar untuk membuat Lightsaber yang monumental itu. Seperti yang sudah-sudah, misi menguntit mereka berubah mala petaka ketika Jedha akhirnya berubah menjadi zona perang. Namun, sebelum Jedha luluh lantak oleh tembakan Death Star, Jyn dan Cassian berhasil menemui Saw yang menyuguhkan informasi penting. Informasi penting itu berasal dari seorang pilot Empire yang berkhianat, Bodhi Rook (Riz Ahmed). Isinya tentang adanya kelemahan Death Star yang sengaja dipasang oleh Galen Erso di reaktornya. Galen mohon pada Saw dan Jyn agar menyalurkan informasi ini ke pihak Alliance agar Death Star dapat segera dihancurkan.

Bertolak dari Jedha, rombongan Jyn yang kini bertambah jumlahnya bergegas menuju Eadu untuk mencari Galen. Sesampainya di sana, misi diam-diam itu pun berubah menjadi perang yang dahsyat. Phew Phew Phew Phew!! Gila!!! Pasukan Alliance menggempur Eadu habis-habisan dengan baku tembak laser yang mengerikan. Sayangnya, baku tembak itu menelan korban, yaitu Galen, ayah Jyn. Jyn sangat terpukul karena kejadian itu. Namun, menyadari bahwa Jyn lah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan bahaya besar yang dapat ditimbulkan oleh Death Star, ia merasa terpanggil untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai ayahnya : melawan Galactic Empire tanpa henti.


Misi berikutnya adalah menuju ke Scarif, ke tempat denah reaktor Death Star disimpan. Tujuannya jelas, mencuri peta itu agar Death Star bisa diledakkan. Hal ini yang jadi cikal bakal meledaknya Death Star di Star Wars IV : A New Hope [1977] dan Star Wars VI : Return of the Jedi [1983]. Misi mencuri peta memang merupakan misi bunuh diri sejak awal. Perisai yang melindungi Scarif membuatnya susah ditembus pasukan Alliance dan membuat rombongan Jyn tertahan di dalam. Karenanya, pasukan Alliance sebagian besar tertahan di luar perisai, hanya beberapa skuadron saja yang bisa masuk ke Scarif. Tetapi, di situlah letak serunya. Tembak-tembakan gila antara pasukan kecil Rebellion-Alliance dan trooper-trooper imperial berlangsung menegangkan. Peperangan di Scarif, langsung mengingatkan saya pada battle scene Minas Tirith di Lord of the Rings : Return of the King [2003]. Pasukan kecil Rebellion ibarat pasukan gerilya Gondor, (anggap saja mereka saat itu dipimpin oleh Arargorn, Legolas, dan Gimli), melawan orc-orc Mordor. Jauh di belakang mereka, terdapat banyak pasukan Rohan yang siap berperang, namun masih tertahan keadaan. Sementara itu, Jyn, K2SO, dan Cassian bagaikan Frodo dan Sam yang diam-diam masuk ke perut musuh untuk mencari benda kecil yang sangat penting. Bahkan, datangnya AT AT Walker di tengah medan perang pun terasa seperti Mumakil raksasa yang memaksa tentara Rohan berperang jatuh bangun. Semua berlangsung tegang, dan punya keseruan masing-masing. 

Tak butuh waktu lama bagi Galactic Empire untuk kembali mengontrol situasi. Alhasil, satu-persatu tokoh gerilya mulai gugur di medan perang. Setelah berbagai ketegangan dan adegan tembak-tembakan gila yang membuat saya menganga, Jyn dan Cassian akhirnya berhasil mentransmisikan peta reaktor Death Star kepada Alliance. Namun, semuanya terlambat, misi bunuh diri benar-benar terealisasi. Death Star menembakkan laser raksasanya ke arah Scarif. Pasukan Alliance lari tunggang langgang. Hal itu diperparah dengan datangnya sang Sith Lord sendiri, Darth Vader, ke medan perang. Di akhir cerita, terdapat adegan singkat teror Darth Vader, yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Ia mengejar tentara Alliance yang memegang soft file peta Death Star hingga kocar-kacir. Darth Vader mengamuk dan menghabisi tentara Alliance yang ketakutan setengah mati. Scene bumbu yang benar-benar pas. Sebuah fan service durasi singkat yang sangat mengena. Scene gila.

Scarif hancur dan usai sudah perjuangan Jyn dan Cassian. Mereka pasrah melihat indahnya ledakan planet Scarif dari pinggir pantai.

SPOILER SELESAI



Rogue One, bagi saya adalah sebuah next-level-fan-service-film dari franchise yang terkenal dalam pembuatan sekuel yang kitu weh, gitu doang. Setidaknya, itu yang saya dapatkan episode 1-3. Semenjak Lucasfilm jatuh ke tangan Disney, mereka mulai membenahi segalanya. Dalam segala aspeknya Rogue One terasa jauh melampaui Star Wars VII : The Force Awakens, yang juga sudah bagus. Dibanding pendahulunya, Rogue One berhasil menerjemahkan esensi kata "Wars" dalam Star Wars ke dalam sebuah film, tanpa sekedar melulu membahas soal perang.

Bagi seorang fan, tentu menonton Rogue One bisa menjadi hiburan yang lebih dari sekedar nonton film. Easter Egg bertebaran di mana-mana. Aroma nostalgia malah terasa lebih kental dibanding nonton The Force Awakens. Obi Wan disindir. "I got a bad feeling about this". R2D2 dan C3PO jadi cameo. Genevieve O'Reilly is back as Mon Mothma after 11 years ago her scene was cut from Star Wars III : Revenge of the Sith [2005]. Stormtrooper masih memakai kostum klasiknya. Star Destroyer masih putih-putihnya. Darth Vader masih kinclong-kinclongnya. Leia masih cantik-cantiknya.

Dari segi teknis, Rogue One digarap sangat serius dan penuh kerja keras di setiap detailnya. Shoot demi shoot-nya dibuat sangat indah. Di beberapa scene, panorama yang menakjubkan seakan mempertegas spesialisasi Disney dalam membuat CGI mewah. Beberapa adegan lain, gerakan kamera sangat fokus pada ekspresi-ekspresi tertentu tokoh-tokohnya. Hal ini memudahkan tiap aktornya untuk menyampaikan emosinya, langsung kepada penonton. Ditambah music score fantastis Michael Giacchino, setiap adegannya berhasil menggerakkan perasaan penonton dari satu mood ke mood yang lain.

Tak hanya itu, alur ceritanya pun sarat akan pesan moral. Secara gamblang, Rogue One menceritakan opresi ala diktaktor Galactic Empire terhadap planet-planet yang jadi koloninya. Galactic Empire, digambarkan sebagai poros kekuatan White Supremacy yang doyan seenaknya. Semua aktor di pihak Empire adalah kulit putih. Indeed, even strormtroopers are "white"! Alhasil, beberapa kelompok kecil bangkit melawan sehingga tercipta Rebellion dan Alliance. Rebellion dan Alliance pun, diisi makhluk-makhluk multi ras. Hal itu jelas terlihat dari aktor-aktornya, Diego Luna seorang hispanik, Donnie Yen dan Jiang Wen adalah aktor Tiongkok, Forrest Whittaker berkulit gelap, dan Riz Ahmed keturunan Pakistan. Selain itu, pesan feminisme juga diangkat Disney dengan menaruh (lagi-lagi) seorang wanita menjadi tokoh utama. Tentu hal ini jadi tonggak sejarah tersendiri bagi perfilman Hollywood. Memang, Disney dikenal doyan menyuarakan pesan-pesan sosial dalam setiap filmnya, dan secara tersirat, itu hal yang teramat positif apalagi setelah kemenangan Trump yang cenderung ultra kulit putih dan sexist mentok.


Mungkin banyak yang tidak setuju, tapi menurut saya, Rogue One dengan segala intriknya berhasil menyelinap masuk ke plot yang sudah tertanam dan bersemayam abadi di hati tiap fansnya. Terutama bagi penikmat Star Wars "muda" di generasi saya. Malahan, ia sukses menggabungkan diri dalam ikatan emosi anak kecil yang saya miliki saat dulu didoktrin nonton Star Wars dengan kesadaran saya sebagai orang dewasa tentang realita sosial yang bener-benar terjadi di luar sana. Nggak usah jauh-jauh, di Indonesia aja banyak yang bisa disindir pakai pesan-pesan progresif Rogue One. 

Alhasil, meski di awal ga rela franchise favorit dijadikan ajang Disney mempropagandakan progressive movement multirasial melawan tirani white supremacist semata, tapi kalau propaganda-nya emang sebagus ini, kenapa engga? Tanpa ragu, saya nobatkan Rogue One : A Star Wars Story sebagai film terbaik di antara film-film Star Wars pendahulunya, tidak hanya sebagai stand-alone movie saja tentunya. In your face, George Lucas!



Rogue One : A Star Wars Story [2016]
Director : Gareth Edwards
Screenplay by : Chris Weitz, Tony Gilroy, John Knoll, Gary Whitta
Cast : Felicity Jones, Diego Luna, Alan Tudyk, Riz Ahmed, Donnie Yen, Wen Jiang, Ben Mendelsohn, Forrest Whittaker, Mads Mikkelsen
A
***

Listening to : John Williams - The Throne Room

You Might Also Like

4 comments

  1. Keren reviewnya tom.
    Anyway kalau belum pernah nonton star wars sama sekali terus nonton ep VIII ini roaming apa engga ya? bisa dinikmati non-fan kah? Thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah makasih Anggra tanggepannya! Pakabar nih?
      Sebenernya Rogue One ini ga termasuk dalam rangkaian anthology Star Wars 1-9 nantinya, tapi film sendiri yang sifatnya additional, settingnya di antara eps 4 dan 5. Dan film ini punya tokoh utama yang baru, sementara yang lama-lama cuma jadi backstory doang. Kalau non-fan sih nikmat-nikmat aja, yang mungkin ga didapet non-fan cuma easter egg sama guyon internal fan-nya doang. Tapi secara keseluruhan, alurnya masih mudah dinikmati tanpa banyak roaming kok. Palingan non-fan cuma butuh adaptasi di awal soal idiom-idiom yang dipake. Happy watching!

      Delete
  2. Koreksi dikit, di. Setting-nya antara episode III dan IV itu. Di opening crawl-nya Episode IV dijelasin battle of Scarif itu hehe

    Cara terbaik buat menikmati Rogue One ya cuman 1. Nonton Eps IV, nonton Rogue One, nonton Episode IV lagi, trus nonton Rogue One lagi hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehehe makasih mas koreksinya. Ya, sudah kroscek (sebelum nulis ini aku nonton IV dulu) dan emang dimention di situ walau masih banyak yang berdebat soal ini juga di luar sana. Tapi kok aku pribadi ngerasa lebih pas ditaruh dari mulai 4 sampe 5 ya? Jadi bukan di gap antara 4 dan 5 gitu, tapi sebelum 4 dimulai dan diakhiri di 5. By the way, we do the same thing, nanti ke bioskop lagi :))

      Delete

Popular Posts

Like us on Facebook